Hi Mom!
Login/Register di sini
Menu
Home Tentang Kami Ruang Anak Ruang Mom Loyalty Program Berita

Menumbuhkan Empati dan Toleransi Anak

Rasa kepedulian, kasih sayang dan keinginan menolong sesama adalah bersumber dari empati pada diri seseorang. Seseorang yang mempunyai rasa empati dapat merasakan penderitaan orang lain, binatang atau makhluk hidup lainnya, sehingga timbul keinginan untuk dapat berbuat sesuatu demi menolong atau meringankan penderitaan sesama makhluk hidup.

Featured Story

Berapa Lama Sih Waktu Bermain yang Tepat untuk Anak? Ini Jawabannya

 

Orang yang mempunyai empati tinggi biasanya bersikap dermawan, disenangi dalam pergaulan, mudah menyesuaikan diri dan percaya diri. Untuk mencapai hal itu, empati anak harus ditumbuhkan sejak dini. Tetapi ini ada syaratnya, Mom yaitu rasa dicintai dan aman terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan merasa dirinya dicintai dan merasa dunia aman untuknya, anak baru dapat mengembangkan cinta dan kepeduliannya terhadap orang lain, termasuk berempati dengan orang lain.

 

1. Orangtua adalah Contohnya, Mom…

Cara efektif menanamkan empati dan rasa cinta adalah melalui contoh. Jika setiap hari Mom memarahi pembantu di rumah dengan kata-kata kasar, tidak mengherankan jika anak tumbuh dengan perilaku semacam itu.

 

Contoh langsung yang Mom tunjukkan sebaiknya dikaitkan dengan peristiwa nyata sehari-hari. Misal, melihat temannya terjatuh, Mom jangan hanya mengatakan, “Duh, kasihan, ya, teman kamu itu,” tapi langsung menolongnya. Mom bisa mengatakan pada anak, “Kalau kamu jatuh pasti sakit. Dia juga sama, pasti kesakitan. Kita harus membantu supaya kakinya tidak sakit.”

 

Lalu bagaimana jika bukan peristiwa aktual yang dapat dikaitkan? Tidak apa-apa, Mom. Jelaskan saja pada anak, bisa melalui dongeng, mengenai nilai-nilai. Seperti, sesama teman harus saling berbagi saat bermain, tidak boleh bertengkar serta harus saling mengalah. Dan, setiap kali ada kesempatan, ingatkan anak untuk mempraktikkan nilai-nilai yang Mom ajarkan.

 

2. Jangan Ragu bilang “I Love You…”

Mengucapkan, “I love you, Nak,” setiap waktu akan membuat anak merasa aman karena dicintai. Namun, sebaiknya kata-kata tersebut tidak hanya diucapkan saja, sementara wujudnya tidak pernah dimunculkan secara nyata. Misalnya, Mom yang selalu mengucapkan, “I love you,” pada anak menjelang tidur, namun di kesehariaannya anak selalu dimarahi, tidak punya waktu untuk bermain bersama, tidak pernah mencium atau memeluk dan selalu dibanding-bandingkan dengan anak lainnya.

 

Jika waktu menjadi kendala, coba, Mom, tambahkan ritual bedtime untuk menumbuhkan pertalian kasih sayang antara anak dan orangtua. Luangkan waktu untuk bercerita atau membaca buku cerita bersama anak-anak. Usai membaca buku cerita, peluk dan belai rambutnya, gosok perlahan-lahan belakang punggungnya, saling menyentuh hidung sambil mengucapkan, “I love you.” Ini akan meyakinkan anak ada kasih sayang yang tulus dari orangtua di antara hari-hari yang penuh kesibukan.

 

3. Merayakan Perbedaan

Selain empati dan rasa cinta, penting untuk menumbuhkan rasa toleransi dalam diri anak. Sama seperti mengajarkan empati, anak perlu contoh. Misalnya, Mom tidak melarangnya bermain dengan teman-temannya yang berbeda suku, agama, warna kulit, bahkan dia boleh bermain dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

 

Sesekali, ajak anak ke lingkungan pergaulan Mom, baik ke teman-teman kantor, arisan atau mungkin saat reuni sekolah. Pada saat itu, tunjukkan bahwa Mom pun memiliki teman yang bermacam-macam dan Mom tidak membeda-bedakan mereka. Inilah yang dimaksud dengan tidak hanya memberikan pengertian kepada anak secara konseptual, namun juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Winda Ruwinda Ningsih
Anakku selalu minta diusap punggung belakangnya...and always I say.. ILoveYou
Mamanya Chrisna
setuju, kita beri contoh dl ke anak2
Explore More

Dengarkan Curhat Anak

Article- 06 Jan 2017

Awasi Anak di Media Sosial, Orangtua...

Article- 13 Dec 2017

Ajak Si Pemalu Berteman, Yuk!

Article- 23 Jan 2017